Antara Jejak Kenangan

shares |

Siang itu, diantara orang-orang baru itu, ada satu sosok yang awalnya biasa aja. Namun, ada kalimat "mengibgat orang cukup dengan satu kenangan saja", dan ketika ia menyebutkan namanya dan panggilannya itu, disitulan kenangan afau ingatanku yang muncul tentangnya. Ya dari satu hingga akhirnya dia membuat kenangan lain di hidupku. Ya ini tentangmu yang pernah ada di hidupku , ntah sampai kapan.
Aku tak pernah menceritakan laku laluku, setidaknya biarkan tulisan ini menjadi pengingat, jejak kenangan yang pernah kita buat sebelum ia dan rasa ini lenyap. Agar aku tahu bagaimana kita memulai dan bagimana akhirnya, biar maumu yang berlaku.
Aku sering berdoa kepad tuhan agar mengirimkanku orang - orang baru untuk mengisi hidupku. Terutama untuk mengisi hatiku. Ntah ia menjawab doaku atau belum, tapi kamu, orang yg benar-benar baru, kemudian menghiasi hariku.
Dari mulai obrolan pertama kita, tentamg aku yang tak mau dipanggil teteh dan akhirnya dipanggil ade. Dan memang sudah jalannya pertemuan di pustaka dan obrolan ngawur kita. Tentang tatapanmu yg penuh makna. Tentang chat dari 6 september yang tak pernah terputus seharipun, setidaknya sampai hari ini. Dari obrolan ringan, tentang kamu yang tak ingin melihat lewat kaca retak. Hingga putaran di stadion yang sampai lupa berapa putaran karena asyik bercerita.
Hei, kita tak pernah janjian untuk ada disana. Beberapa kali bertemu disana mungkin itu hadiah darinya. Terimakasih juga untuk paparazi yang diam2 mencuri foto kita. Terimakasih untuk mengenal banyak orang, dan untuk keresahan saat aku pergi keluar kota dengan teman2 dari sekolah. Sampai kau terus mengecek keadaanku.
Kau yang sibuk dengan tugas2mu, begitu juga denganku, sampai akhirnya hari itu bisa benar2 pergi bersama (potongan tiket film itu masih kusimpan). Dan setelah itu kau yang tiba2 seolah menjauh. Begitu memang... sampai sebulan kemudian aku baru tahu kau down gara2 salah satu dosenmu itu.
Kamu selalu begadang. Daaan salah satu sebabnya adalah aku. Awalnya ingin telpon sebentar tau2 pasti lama sampai berjam2.
Yang lucu, ketika janjian mau ke pustaka dan kita malah mager duduk didepannya sampai ketahuan kita duduk berdua oleh teman kelasku. Lalu ada yang ingin ditemani mencari sesuatu dan senang digamit manja.
Aku menikmati semua itu. Obrolan ringan dan kelakuanmu yang kadang membuatku tertawa. Aah aku seperti bercermin *kalo mau tau maksudnya apa, harus tanya langsung ke akunya ya wkwk*.
Sampai setelah itu, masih ada pertemuan lain, dan aku selalu senang ketika aku atau kamu tak sabar untuk bertemu. Masih ada kata2 hangat penuh rasa.
Obrolan2r ringan dan keceriaan itu selalu membuatku damai. Tapi ya, manusia bisa bertahan karena ada harapan. Lalu, ketika kau tak punya harapan sedikitpun untuk kita, aku bisa apa?
Aku ingin dengan egoku untuk tetap bersamamu. Aku sudah terbiasa.
Dan hati ini, sudah merasakan rasa itu untukmu. Jikapun berakhir kisah ini, rasa ini tetap ada, hanya kita yang berusaha terbiasa dengan keadaan lain.
Aku ingin berjalan tanpa mengkhawatirkan hari esok. Namun jika kau tak punha harapan, bolehkah aku untuk terus bertahan? Haruskah diakhiri kisah yang bahkan baru dimulai? Jika ada rasa, pasti ada harapan.
Terimakasih untuk satu semester bersama.
Bandung, 01.04. 22.12.2017

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar